Sabtu, 28 Juli 2012

Sator Arepo Tenet Opera Rotas

Sadar atau tidak sadar dengan segala aktivitas harian yang sudah kita buat dan lakukan, menimbulkan adanya rasa kekhawatiran dan kecemasan yang sangat mengganggu aktivitas kita. Jika hal ini kita biarkan terus akan sangat merugikan baik diri kita sendiri maupun orang di sekitar kita. Seringkali kita mencari solusinya, tetapi tidak jarang pula gagal.
Syukur kepada Tuhan yang telah memberikan kita segala sesuatunya, termasuk kesempatan bagi kita untuk dapat menyampaikan ‘unek-unek’ atau permasalahan kita kepada-Nya. Berikut ada sepotong doa kuno yang sederhana dan terbukti manjur untuk memberikan kita perlindungan dalam semua masalah-masalah yang kita hadapi.
Sejarah Doa "Sator Arepo Tenet Opera Rotas"
 
Doa ini berlatar belakang peristiwa Perang Dunia I, di mana ada seorang pemuda atheis yang mengikuti wajib militer sedang diliputi rasa takut yang luar biasa ketika ia akan diberangkatkan menuju medan perang. Di tengah gejolak rasa takutnya, ia bertemu dengan seorang pastor yang memberikan nasihat kepadanya agar ia tidak risau dan takut, seraya mengajarkan suatu doa singkat yang mudah untuk diingat dan dihafalkan apabila diucapkan secara berulang-ulang. Pastor tersebut berpesan kepada pemuda itu agar selalu melafalkan doa tersebut setiap saat dalam bahasa aslinya (Latin) supaya ia dapat selamat dari segala marabahaya.  
Pemuda itu meyakini apa yang dinasehatkan oleh pastor tersebut serta mendoakannya berulang-ulang sekalipun tidak mengerti akan arti doa tersebut. Dalam suatu pertempuran yang besar, seluruh anggota pasukan pemuda tersebut gugur dalam pertempuran, namun hanya pemuda atheis itu sendiri yang selamat dari gempuran pasukan musuhnya. Karena doa ini, pemuda tersebut bertobat dan menyebarkannya sebagai doa perlindungan. 
Read More..

Menyatukan Hati

Jumat malam (27/7) ini Clara Fortin tidak latihan tetapi tetap kumpul di Gereja dan melakukan hal yang sama pentingnya dengan latihan koor: omong-omong dari hati ke hati. Secara berkala, acara ini jadi salah satu mata acara penting, karena kegiatan paduan suara ini berkaitan dengan kepentingan seluruh anggota yang kerap berbenturan dengan banyak kepentingan lain di luar latihan.
Terbukti bahwa dengan komunikasi yang efektif, dilandasi dengan niat tulus untuk bekerja di ladang Tuhan, semua masalah bisa diselesaikan dengan manis. Masalah memang datang silih berganti, tanpa diundang sekalipun! Macam-macam persoalan, baik pribadi maupun kelompok, menjadi kerikil yang bisa menjadikan kita terpeselet dan jatuh. Gosip, rumor, bisik-bisik tak jelas, adalah kerikil yang bisa membuat suasana latihan jadi kacau. Menjalin kebersamaan lewat komunikasi akan membuat semua masalah menjadi sirna.
Menyatukan hati, menjalin ikatan yang kuat, menjaga arti persahabatan dan rasa kekeluargaan, menjadi modal penting dalam membentuk organisasi paduan suara yang baik. Bukan sekadar pandai membaca not dan bernyanyi merdu, tapi attitude (sikap) yang sempurna menjadi hal terpenting bagi soliditas organisasi seperti paduan suara yang sifatnya cair ini.
Read More..

Kamis, 26 Juli 2012

Komunikasi = Dia Lo Gue

Menyanyi ternyata bentuk lain dari komunikasi, sebuah kegiatan mahapenting dalam hidup manusia. Bayangkan kalau kita tidak omong-omongan satu sama lain. Betapa sepinya dunia ini...
Komunikasi two way traffic menjadi sangat penting karena hal itu menghindarkan dari kesalahpahaman. Semua masalah yang ada di dunia ini - besar atau kecil - berawal dari komunikasi yang mampet, tidak lancar atau tersumbat. Kita bukan Superman yang bisa menebak pikiran orang lain. Pesulap canggih sekalipun tidak bisa menebak pikiran.
Dalam bahasa Inggris, omong-omong itu namanya dialogue. Tapi biar gampang mencerna: untuk omong-omong itu butuh dia, butuh lo, butuh gue... Kalau omong-omong sendiri itu monologue, ngomong dewe alias or-gil.
Menyanyi, apalagi bersama-sama dalam sebuah paduan suara, inti sebenarnya adalah menyampaikan pesan - dari aku untuk kamu. Menyampaikan pesan dalam bentuk lirik dan syair untuk didengar dalam nada yang indah. 
Dengan nada yang indah, sebuah pesan jadi bisa diterima pendengarnya dengan hati yang sejuk, damai dan menenangkan. Sebuah lagu rohani yang inti dasarnya adalah sebuah doa (simak saja semua lagu rohani, sejatinya itu adalah sebuah doa), bisa membuat pendengarnya menjadi ayem, ikut bersuka-cita kalau lagunya gembira, atau ikut bersedih kalau lagunya mellow.
Read More..

Rabu, 25 Juli 2012

Partitur "Dreams Come True" Langsung dari Penciptanya!

 Sungguh sebuah kehormatan bagi St Clara Fortin Choir. Lagu "Dreams Come True" yang diminta calon pengantin pada 1 Desember besok sudah didapatkan. Partitur lengkap, komplit dengan music chord dan lirik dikirimkan Joel Diamond, khusus untuk St Clara Fortin Choir. Tak lupa, Joel juga mengirimkan mp3 lagu tersebut at no charge at all!
Benar-benar menggembirakan, karena seluruh jagat maya internet sudah diubek-ubek, tapi tetap tidak mendapatkan partitur itu. Tapi ketika Joel dikirimi email mengenai kesulitan itu, ia mengirimkannya langsung. Thank you so much, Joel!
Read More..

Disiplin atau Diselipin = Dikeploki atau Dikaploki?

Selasa (25/7) malam di TV-One ada program menarik. Para mahasiswa dan mahasiswi di Melbourne University di Australia ternyata begitu pandai berbahasa Indonesia. Dan mereka belajar minimal 4 tahun untuk bisa lancar berbahasa Indonesia. Syaratnya cuma satu: disiplin berlatih menggunakannya setiap hari! Richard Clayderman, pianis jagoan yang kerap kita dengar itu, biar sudah "jago" pun perlu berlatih minimal 5 jam setiap hari!
Begitu pula dengan menyanyi di sebuah paduan suara. Tapi mengelola sebuah kelompok paduan suara ternyata memang harus panjang sabar. Harus sering mengelus dada. Menyamakan persepsi akan pentingnya sebuah sesi latihan agar bisa tampil dengan baik dan bisa dinikmati umat di Gereja ternyata tidak mudah. Sesi latihan yang harusnya lebih penting dari "pertunjukan"nya sendiri masih dianggap sepele. "Ah, hari ini saya gak enak badan. Bolos sekali dua kali nggak apa-apa kayaknya." Berjuta alasan bisa dibuat untuk tidak latihan. Namun, intinya adalah: bagaimana kita memberi respect (hormat) pada apa yang kita sukai dan tekuni.
Musuh utama untuk bisa disiplin latihan adalah: mengalahkan kemalasan. Akhirnya kegiatan yang seharusnya menyenangkan itu hanya menjadi sesi yang "diselipin" bukan yang sesuatu yang harus didisiplinkan. Hadeh...
Tak dipungkiri, semua anggota paduan suara senang bila umat bisa menikmati lagu-lagu yang dilantunkan oleh paduan suara. Senang ketika melihat semua mata melirik atau malah menoleh ke arah kelompok paduan suara yang sedang "show off". Hati ini rasanya bungah sekali ketika hal itu terjadi. Kalau tak ditahan-tahan, mungkin bisa saja umat bertepuk-tangan, ngeploki, memberi apresiasi pada paduan suara yang tampil ciamik. Lebih baik dikeploki ketimbang dikaploki, bukan?
Untuk bisa dikeploki itu, itu adalah buah yang dipetik dari disiplin latihan yang rutin. Bukan sesuatu yang hanya "diselipin".

Read More..

Selasa, 24 Juli 2012

Pro-Kontra Musik Liturgi


Tidak perlu tertegun atau terganggu dengan polemik tentang masuknya musik pop ke dalam liturgi (Fr Giom Bastion Was OCSO, ”Musik Liturgi Demi Orang Muda”, HIDUP No. 22, 27 Mei 2012, hal. 9). Sudah lama, orang mempersoalkan hal ini: pro dan kontra musik liturgi.

Pusat Musik Liturgi (PML) di Yogyakarta pernah mencatat tiga pendapat. Pendapat pertama cenderung menerima lagu pop rohani agar tidak dicap kolot dan kurang peka pada selera zaman. Tapi, pendapat kedua menolak lagu pop, karena jika tidak, maka Musik Gereja akan merosot, makin kurang bermutu dan kehilangan daya membentuk manusia. Pendapat ketiga cenderung kompromistis. Mereka berpendapat, lebih baik menciptakan lagu pop rohani bermutu yang dapat dipakai sebagai sarana pendidikan iman di luar liturgi.

Setiap pendapat tentu harus memperlihatkan argumen teologis-liturgis. Karena bagaimanapun pula, seorang pemusik Gereja harus mampu membedakan lagu profan dan lagu sakral, lagu rohani dan lagu liturgi. Banyak musisi Gereja menilai musik dan lagu rohani pop dangkal teologinya. Syairnya egosentris dan musiknya bermutu rendah (lih. Karl-Edmund Prier SJ dan Paul Widyawan. 2011. Roda Musik Liturgi. Yogyakarta: PML, hal 29-35). Sebaliknya, musik dan nyanyian liturgi harus berdaya mengubah manusia. Tuhan adalah daya itu. Bahkan Tuhan sendiri adalah musik.

”Kembali kepada masalah orang membawa lagu pop ke dalam Gereja, nampaknya karena mereka ingin berperan sebagai ‘vocal group’ atau artis yang memperlakukan umat sebagai pendengar atau dengan lain kata sesungguhnya ada keinginan dari penyanyi-penyanyi Gereja untuk mencicipi peran atau posisi penyanyi hiburan dengan mempersilahkan umat di gereja sebagai pendengar yang mau tidak mau. Biasanya saat komuni dipakai untuk menampilkan diri. Apakah pemasangan teks rohani pada lagu pop sudah bisa dikatakan mensucikan lagu pop? Mungkin jawabannya lebih tepat usaha tersebut malah menurunkan arti teks rohani tersebut, karena melodi pada ekspose pertama sudah dipersembahkan pada dunia hiburan dan Tuhan diberi sisanya” (Karl-Edmund Prier SJ dan Paul Widyawan, 2011:78).

Paus Benediktus XVI pun mempertimbangkan musik dan lagu pop masuk ke dalam liturgi. Tapi, Paus mengingatkan, musik dan lagu Gereja adalah Umat Allah yang bernyanyi menyatakan identitas. Musik Gereja bukan sekadar demi kepentingan seni, tapi ungkapan pujian kepada Tuhan. Maka, hendaknya dihindari musik dangkal masuk dalam perayaan liturgis dan jangan menciptakan musik liturgi demi kepentingan pragmatisme pastoral. Kita tidak seenaknya memasukkan musik dan lagu pop ke dalam perayaan liturgi, terutama perayaan Ekaristi. Kelonggaran boleh ditolerir untuk ibadat di luar liturgi.

Sementara itu masalah inkulturasi tidak semudah membalik telapak tangan. Walaupun orang merasa puas dengan nyanyian rohani pop, tetapi asing dari Kitab Suci dan Gereja, maka strukturnya tetap kafir. Kita tidak sekadar mengambil lagu pop lalu diberi teks saleh Katolik. Tetapi dari lagu pop, kita ambil motif, gaya, dan ritmiknya, lalu kita menggubah lagu Gerejawi yang orisional. Inilah tantangan berat bagi komponis Gereja.

Menciptakan lagu inkulturatif adalah karya kreatif, membutuhkan ketekunan dan studi yang mendalam. Kita bukan Mozart, César Franck, Franz Schubert, atau Felix Mendelssohn. Dalam menciptakan lagu inkulturatif, kita perlu memperhatikan asosiasi. Dalam Kongres Musik Liturgi Indonesia I, sudah diingatkan oleh P. Frans Harjawiyata OSCO, ”Dapat terjadi bahwa musik yang sebenarnya indah menimbulkan asosiasi yang tidak cocok, misalnya jika musik itu kerap diperdengarkan di tempat-tempat hiburan yang murah. Dapat dimengerti bahwa hal ini dapat menimbulkan banyak kesulitan praktis. Memang, tentang perasaan orang tidak bisa berdebat” (Spektrum, No. 2, Th VI, 1976, hal 26).

Jacobus Tarigan
Penulis adalah Dosen Luar Biasa Matakuliah Liturgika STF Driyarkara Jakarta
Disadur dari Majalah HIDUP, Edisi 24, Tahun ke-66, 10 Juni 2012
Read More..

Senin, 16 Juli 2012

Ah.... Libur Latihan?!

Usai tugas Minggu pagi, ada pengumuman yang rasanya akan membuat salah satu cara untuk mengendurkan otot dan pikiran yang jenuh, jadi tidak terlampiaskan. Minggu ini libur latihan koor! Jadi, harus cari cara lain untuk refreshing dari kerjaan kantor yang kadang-kadang membosankan.
Latihan koor bersama teman-teman rasanya sudah menjadi candu yang memabukkan. Belajar lagu baru dan kalau bisa menaklukkan lagu yang sulit, rasanya menjadi tantangan tersendiri. Bertemu teman-teman dan ngobrol seru saja sudah jadi menu yang menyenangkan, apalagi ditambah tahu tentang lagu-lagu yang apik.
Mudah-mudahan liburnya gak kepanjangan, karena penyakitnya: kalau kelamaan libur, malah timbul rasa malas. Takutnya susah untuk menggedor semangat lagi. Rasanya gak sabar untuk menunggu satu minggu lagi, karena banyak tugas misa yang harus dilayani lagi pada Agustus, September, tugas pengantin di Oktober dan Desember.
Tetap semangat... caiyoooo!!!
Read More..

Sabtu, 14 Juli 2012

Koini Ochite buat Happy dan Hidehiko

Menyesuaikan diri dengan permintaan pasangan pengantin memang menjadi salah satu orientasi dari seluruh anggota St. Clara Fortin Choir, sekalipun hal itu menuntut para anggota untuk selalu belajar lagu baru yang "beyond imagination".
Permintaan agar sebuah lagu bernuansa Jepang dinyanyikan, datang ketika calon pengantin, Annastasia Happy Satio berusaha memberi surprise calon suaminya yang orang Jepang. Akhirnya, pilihan lagu jatuh pada Koini Ochite (Fall in Love) yang aslinya dinyanyikan Akiko Kobayasi dan dipopulerkan oleh Olivia Ong. Lagu manis, romantis dan puitis itu pun meluncur dilantunkan Ninik, salah satu anggota St Clara Fortin Choir. 
"Aaah.... you sang a Japanese song? Domo arigato gozaimasu..." kata Hidehiko Tanabe ketika seluruh anggota paduan suara berkesempatan berfoto di akhir acara. Pertanyaan dan senyuman yang tersungging di bibir Hide pun menjadi "bayaran" yang tak ternilai...
Menjadi satu kebanggaan dan kesenangan tersendiri ketika pasangan pengantin puas dengan pelayanan dari St. Clara Fortin. Terima kasih Tuhan, telah memberkati paduan suara ini sehingga bisa melayani dengan sebaik mungkin.
Read More..

Sabtu, 07 Juli 2012

Membaca Partitur

Untuk bisa bernyanyi dengan baik, tentu kita harus belajar tanda–tanda baca yang ada dalam partitur sebuah lagu.
1. TEMPO
Dalam sebuah lagu, ‘tempo’ menyatakan cepat atau lambatnya lagu tersebut dinyanyikan.
Tanda ‘tempo’ biasanya ditulis di sebelah kiri atas teks dan berlaku untuk keseluruhan lagu, tetapi, sering kali juga terjadi perubahan tempo di tengah-tengah nyanyian yang dinyatakan dengan istilah tertentu, misalnya, rittennutto yang artinya, makin lama makin lambat.
Secara garis besar terdapat tiga tempo utama yakni lambat, sedang, dan cepat. Ketiga jenis tempo ini, merupakan dasar perkembangan jenis-jenis tempo yang lain.
TANDA TEMPO
Lambat
largo, largamente : pelan sekali
largissimo : lebih pelan dari largo
lento : pelan, merana(jawa inglement)
adagio : sangat lambat penuh perasaan
grave : pelan, penuh khidmat
larghetto : lebih cepat sedikit dari largo
Sedang
andante : pelan biasa, secepat orang berjalan biasa
andantino : lebih cepat sedikit dari andante
moderato,tempo ordinary : sedang
allegro moderato : lebih cepat dari moderato
tempo comodo : sedang; ringan
Cepat
allegro : cepat
allegro assai : cepat sekali
allegro con brio : cepat dan hidup
allegro con fuoco : cepat berapi-api
allegro con spirito : cepat bersemangat
allegretto : agak cepat, ringan
presto : cepat tergesa-gesa
prestissimo : secepat-cepatnya
vivace, vivo : cepat dan girang
Mempercepat
accelerando (accel.) : lambat laun dipercepat
doppio movimento : 2 kali lebih cepat
piu mosso : menjadi cepat dan bergairah
precipitando : dipercepatkan
stringendo (string.),atau stretto : mendesak dipercepat
Memperlambat
allargando : menjadi luas dan lambat
calando : makin lambat dan makin lembut
mancando : makin lambat dan makin lembut
perdendosi : makin lambat dan makin lembut
smorzando : makin lambat dan makin lembut
morendo : makin lambat dan makin lembut
meno mosso : menjadi lambat dan kurang bergairah
meno allegro : kecepatannya berkurang
rallentando,(rall atau rallen t) : lebih lambat
ritardando : diperlambat
ritenuto (rit. atau riten.) : makin lambat, malu-malu
Tanda-tanda lain
L’istesso tempo : dipergunakan dalam pertukaran tanda birama (misalnya dari 2/2 menjadi 2/4
a tempo : kembali ke tempo asal
Tempo I, / Tempo Primo, / T.P: kembali ke tempo semula
tempo rubato : bebas memperpanjang atau memperpendek nada sedemikian rupa sehingga seolah-olah tidak dapat diketahui, dengan cara mencuri nafas.
Ad libitium, atau a piacere : sekehendak hati
staccato (stacc.) : nada dimainkan atau dinyanyikan pendek
Permata : panjang pendeknya nada bebas

dikutip dari http://madahliturgi.wordpress.com/

Read More..

Balga Tutu Pambahaeni Mi Tuhan pun mulus!

"Selalu bernyanyi dengan sukacita untuk Tuhan" tampaknya memang menjadi moto yang pas untuk Clara Fortin Choir. Setelah mempersiapkan diri hanya sekitar 2 minggu untuk menyanyikan "Balga Tutu Pambahaeni Mi Tuhan", akhirnya lagu pujian kepada Tuhan dalam bahasa Batak yang sulit itu sanggup ditaklukkan dan dipersembahkan dalam Misa Perkawinan Ayu dan Arya, pada Minggu (7/7) kemarin. "Itu karena kita menyanyikannya dengan sukacita!" kata seorang anggota CF.
Pastor tamu dari St Bernadette CIledug yang memimpin misa itu juga mengacungkan jempol. Rasanya semua kesulitan dan jerih-payah terbayar lunas. "Koornya bagus betul!" ujar Romo Rofinus Romanus Rasa, CICM. Ah, si Romo emang paling bisaaaa deh, rasanya sih seperti latihan biasa tapi cuma dilengkapi pakai seragam dan ulos saja.
Permintaan adanya lagu Batak memang datang dari keluarga pengantin karena salah satu pengantin bermarga Batak dan CF memang harus selalu mempersiapkan diri untuk 'bisa menyanyikan lagu apapun'. "Fuuih... minggu depan gantian ribet nyanyi lagu Jepang..."  tukas seorang anggota. Yang penting semua anggota CF semua senang hari ini karena bisa melayani dengan baik dan memuaskan. Muliate.... muliate....
Minggu depan giliran keluarga Tanabe san yang akan disuguhi CF lagu romantis berbahasa Jepang di dalam Misa Sakramen Pernikahannya. Arigato, Tanabe san... sudah mempercayakan paduan suara untuk pernikahannya kepada Clara Fortin... May God bless us!


Read More..

Minggu, 01 Juli 2012

Wajah Cemberut di Paduan Suara






Sekalipun saya sudah berkutat dalam urusan nyanyi-menyanyi ini lebih dari 15 tahun, tapi saya masih saja sering mendapati glum-looking face di beberapa anggota ketika latihan. Mendapati satu wajah yang malas-malasan sudah cukup untuk membuat berpikir, ada yang tidak beres di kelompok ini. Tapi kira-kira apa arti wajah cemberut itu?
apakah mereka bosan?
Saya bukan termasuk orang yang langsung sigap pada pagi hari, tapi ketika akan memulai sesuatu, saya selalu berusaha untuk memutar seluruh silinder yang ada di tubuh dan pikiran saya untuk tetap bisa antusias. Perlu kerja dan kemauan keras di antara kelelahan fisik dan kepenatan pikiran untuk bisa melakukan itu. Tapi terkadang pun saya bisa cemberut, bersikap malas-malasan dan low energy, “Kalau bisa, mendingan tidur deh…” kata suara batin.
Selama bertahun-tahun saya mendapati kenyataan bahwa anggota paduan suara (atau koor) itu perlu datang untuk bertemu anggota lain dan NGOBROL. Ya, mereka senang ngobrol. In fact they love it. Mereka selalu berkumpul dan berkomentar, lagunya sulit! (tapi ketika akhirnya bisa “menaklukkan” lagu sulit itu, mereka bisa tertawa dan tetap kembali latihan. But sometimes still they look bored.
I know it’s not me (it’s them!), tapi saya harus berusaha keras untuk tetap mengenalkan lagu-lagu sulit tapi bagus, membuat mereka tetap bersemangat.
Maka, saya kadang terlihat konyol membanyol tentang apapun untuk tetap menyegarkan suasana. Tapi sebenarnya apa sih yang terjadi? Mereka senang bernyanyi, bisa bernyanyi dan tampak menikmati, tapi mengapa wajah cemberut itu tetap muncul?
Nggak tersenyum, cuma…
Berikut beberapa alasan mengapa orang-orang tidak tersenyum ketika melakukan sesuatu:
  • Saya lagi konsentrasi nih – memang sulit untuk terlihat happy dan bibir tersenyum ketika sedang mempelajari lagu sulit. Konsentrasi memang kadang membuat wajah jadi tegang dan terlihat cemberut. 
  • Saya bingung – bukan cuma konsentrasi. Bingung juga menjadi kemungkinan terbesar. Sangat mungkin anggota koor jadi bingung, merasa tertinggal dan tidak tahu apa yang harus diperbuat (atau dinyanyikan). Akhirnya…ya cemberut deh!  
  • Saya nggak ada di sini – kadang-kadang pikiran seorang penyanyi akan “melompat”. Sesuatu di luar pikirannya mengganggunya – sekalipun sekilas – mereka memikirkan urusan lain selain menyanyi. “Kompor di dapur sudah dimatikan belum ya?”  
  • Saya cemas – wajah cemberut muncul biasanya pada saat pertama sesi latihan, terutama pada penyanyi yang menerima partitur lagu yang tidak dikenalnya. They’re a little scared! “Nyanyinya bagaimana ini? Saya bisa nggak ya? Bagaimana kalau yang lain lebih pinter menyanyikan ketimbang saya?”  
  • Saya capek – ini adalah wajah yang pasti kerap Anda temui terutama di latihan malam hari. Setelah lelah bekerja, disodori partitur sulit. Lagunya pun tak dikenal. Belajar lagu baru memang membutuhkan energi yang banyak. Dan pada akhir latihan, biasanya beberapa wajah lebih “tertekuk” lagi yang otomatis membuat mereka sulit tersenyum dan terlihat enerjik.  
  • Memang saya begini, kok – beberapa orang memang “dari sononya” terlihat muram, suram dan terlahir cemberut. Sesuatu yang tak bisa dihindari. Padahal mereka senang bergaul, hidupnya bahagia dan penuh enthusiasme, tapi raut muka yang “dari sononya” itu membuat mereka terlihat tak bersahabat. Sayang, ya?  
  • Saya nggak sanggup – “Saya benar-benar nggak bisa. Nggak sanggup, ini lebih sulit dari yang saya pikirkan.” Mungkin mereka memang keluar dari zona nyaman dan tampak seperti terjerembab di tempat yang menyudutkan mereka. Padahal, mereka hanya memegang partitur musik yang, yaaahh… terlihat sulit. Tembok ketidaksanggupan tampaknya langsung berdiri di depan mereka dan mereka tampak langsung menyerah. Akhirnya, merasa bahwa paduan suara itu menuntut dirinya terlalu banyak…  
  • Saya sedang sakit – banyak anggota yang menjadikan alasan ini sebagai sesuatu yang sah untuk tidak hadir di latihan. Entah cuma pusing sedikit, ada urusan anak atau pasangan, ‘masuk angin’ atau apapun, mereka memilih untuk tinggal di rumah, ketimbang datang latihan (walaupun menyanyi sambil duduk pun sebenarnya tak pa-apa). Begitu ‘dipaksa’ datang, alamaak…wajahnya langsung cemberut... 
  • Bantuin dong – ketika sampai di bagian yang sulit dan butuh pengulangan biasanya anggota lebih banyak terdiam dan cemberut ketimbang minta konduktor atau pelatih untuk mengulang bagian tersebut. Pelatih harus langsung tanggap, wajah-wajah seperti ini adalah wajah yang perlu bantuan. 
  • Saya beda sendiri – bagian lain dari sesi pembelajaran adalah ketika Anda merasa benar sendiri dalam membaca partitur dan yang lain salah. Tahap mencari tahu “Anda yang keliru”atau “orang lain yang salah” pasti membuat wajah Anda cemberut. Kalau tak ketemu jawabannya, biasanya Anda akan putus asa. “Terserahlah…”  
  • Saya terlihat jelek ketika menyanyi – Anda sudah pernah difoto ketika tengah bernyanyi? Sadarilah, ‘mulut yang setengah terbuka dan mata setengah tertutup’ benar-benar menjadi foto yang sangat tidak menarik! Ternyata memang sulit untuk bernyanyi DAN tersenyum dalam waktu bersamaan
Bukannya saya tidak senang pada Anda sih… tapi ini adalah salah satu dari interprestasi saya ketika mengamati beberapa faktor ketika kita berkumpul bersama untuk bernyanyi. Ayo, sebutkan mengapa Anda cemberut ketika latihan?
Kadang, saya melihat beberapa orang cemberut pada saat baru menyanyikan lagu pertama. Saya sudah memberikan beberapa petunjuk di atas sebab-sebabnya. Tapi yang mana?
Tujuan saya sederhana: ingin melihat kelompok yang bahagia, senang, raut wajah cerah dan bernyanyi dari dalam hati. Dengan senang hati saya akan membantu, tapi saya harus tahu dulu, MENGAPA Anda cemberut? Beritahu saya karena saya tak bisa menebak.
Kalau Anda memberitahu saya, saya yakin bisa membantu membenahinya. Setiap lekuk wajah yang cemberut menceritakan kisah yang berbeda dan Anda perlu bicara. Jangan takut, saya di sini akan membantu. Do leave a comment and share your experiences.
Read More..